Kamis, 25 Agustus 2011

Teks naratif

Senja Pun Tak Indah Lagi
Suatu hari saya bertamasya di taman bersama sahabat saya, Putri. Putri adalah teman terdekat dengan saya, dibandingkan dengan teman-teman saya yang lain. Kami sudah merencanakan kegiatan ini berhari-hari yang lalu, dan akhirnya baru dapat dilaksanakan pada hari itu. Saya menghampiri Putri terlebih dahulu sebelum menuju ke taman.
        
 Untuk menuju taman, kami mengendarai sepeda. Beruntung sekali pagi itu jalan masih lumayan sepi. Setelah menempuh perjalanan kira-kira 15 menit, akhirnya kami sampai di taman. Kami memarkirkan sepeda kami di tempat parkir, dan segera berjalan-jalan.

Kami berjalan-jalan di taman sekitar 30 menit. Lalu kami duduk-duduk di bawah pohon. Kami duduk sambil menikmati bekal yang kami bawa dari rumah. Kami makan sambil berbagi pengalaman lucu. Kami berdua tertawa dan bergembira bersama-sama. (Nisfi)

         Hembusan angin dan kicauan burung menambah indahnya suasana. Berjam-jam telah kami lalui bersama. Kami pun segera membersihkan bungkus-bungkus makanan yang ada di sekitar kami. Karena sudah cukup sore, kami pun bergegas pulang.

            Saat perjalanan pulang kami sempat melihat matahari terbenam yang indah. Putri tiba-tiba mengatakan hal bahwa itu adalah matahari terbenam paling indah dan terakhir yang dia lihat, namun saya tidak menanggapi serius. Sesampainya di rumah, Saya mendapat kabar bahwa Putri telah dipanggil yang Maha Kuasa. Setelah mendengar kabar itu saya tiba-tiba teringat dengan perkataannya. Ternyata itulah kebersamaan terakhir kami.Saya dan keluarga segera menuju ke kediaman Putri.


SELESAI


Keterangan : paragraf  kedua dan kelima adalah paragraf sisipan (bebas).

Urutan peristiwa :
1. Bertamasya di taman
2. Berjalan-jalan di taman sambil menikmati keindahan taman
3. Duduk-duduk di bawah pohon
4. Menikmati makanan ringan
5. Membersihkan bungkus-bungkus makanan
6. Bergegas pulang
7. Putri meninggal
8. Menuju ke kediaman Putri

Paragraf Argumentasi


PENEGAKAN KEDISIPLINAN MELALUI SISTEM POIN
Akhir-akhir ini, kedisiplinan di kalangan para pelajar mulai luntur khususnya kedisiplinan dalam menaati tata tertib sekolah. Fenomena ini sering dijumpai di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Misalnya saja, banyak terjadi tawuran antar sekolah yang memakan korban jiwa. Selain itu, banyak juga siswa yang mengenakan seragam sekolah yang tidak sesuai aturan. Namun, kasus di atas  jarang sekali saya jumpai di SMA Negeri 1 Salatiga. Mungkin karena cara penegakan kedisiplinan yang dianut oleh SMA Negeri 1 Salatiga yaitu dengan sistem poin membuat siswa enggan untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai aturan siswa pada umumnya.
Diberlakukannya sistem poin ini, dikarenakan sekolah tidak lagi memberlakukan sanksi fisik bagi pelanggar aturan. Namun, hukuman dalam bentuk sistem poin bagi pelanggarnya. Misalnya saja, di SMA Negeri 1 Salatiga, sanksi poin dapat bervariasi, untuk poin terendah yakni terlambat datang kesekolah mendapat poin 3, sedangkan yang terberat hingga dikeluarkan dari sekolah dengan bobot poin 150 , seperti pemakai narkoba, perkelahiaan, pencabulan dan hamil.
                Tujuan diberlakukannya sistem poin ini adalah membantu guru mengetahui perilaku siswa di kelas, mengetahui jumlah pelanggaran yang dilakukan siswa, orang tua lebih bisa mengetahui
bagaimana perilaku anaknya di sekolah, menjadikan siswa lebih patuh pada
tata tertib yang ada, dan menjadikan siswa berdisiplin tinggi.
Cara kerja dari sistem poin yaitu setiap pelanggaran yang dilakukan siswa akan diberi poin, apabila masih melanggar maka poin yang telah didapatkan tadi akan dilipatkan. Misalnya saja, ada siswa yang terlambat masuk sekolah, maka siswa tesebut diberi poin 3 (tiga), jika hari berikutnya masih terlambat, maka poinnya dilipatkan menjadi 9 (Sembilan). Batas maksimal poin yang diberikan kepada siswa adalah 150, apabila poin yang didapat siswa melebihi 150, maka siswa akan dikeluarkan.
                 Hasil pelaksanaan tata tertib sistem poin dalam peningkatan disiplin siswa di SMA Negeri 1 Salatiga dapat dilihat dari jumlah penurunan angka pelanggaran dari tahun ke tahun semakin menurun. Dari uraian di atas, dapat saya simpulkan bahwa penerapan sistem poin di SMA Negeri 1 Salatiga dapat meminimalisir angka pelanggaran dan meningkatkan kedisiplinan siswa, karena sistem ini memiliki tingkat sanksi dan kedisiplinan yang tinggi, apabila poin yang siswa peroleh melebihi batas kuota yang sekolah batasi, maka siswa tersebut akan dikembalikan kepada orang tua siswa yang bersangkutan.